Keunggulan

Literasi

Literasi Smansa 1 Klaten …..

(Gugus  Gagas Tanpa Watas) 

Gugus kata menjadikan hidup bermakna. Slogan inilah barangkali yang memberi roh yang menggerakkan sebuah alasan, mengapa hidup harus bermakna. SMAN I Klaten, adalah ruang dan waktu bagi berdenyutnya nadi semangat untuk maju. Maju dalam segala lini. Lini kecerdasan. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosinal, kecerdasan social, pun kecerdasan spiritual. Kecerdasan yang bermuara pada keutuhan. Keutuhan sebagai manusia yang terus berubah untuk maju.

Salah satu wahana kemajuan itu adalah semangat berubah, semangat mengubah, semangat mengisi, semangat memaknai. Berubah untuk menjadi lebih baik, mengubah kebiasaan baik menjadi pembiasaan, mengisi setiap keluangan waktu dengan kegiatan positif, dan semangat mengisi pikiran dengan berbagai disiplin ilmu yang memadai. Konsep-konsep itu hanya dapat dicapai dengan membuka cakrawala ilmu.

Wujud caklawala itu itu adalah literasi. Literasi merupakan kegiatan membaca-menulis Sebagai garda terdepan pendidikan di wilayah Klaten, SMAN 1 Klaten telah menjadikan literasi sebagai Nadi.  . Nadi bagi proses besar, proses penting dalam hidup, proses pendidikan. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik inilah yang mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan  Peraturan Pemerintah  No 21 tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  yang mewajibkan setiap siswa  untuk membaca buku sebelum memulai jam pelajaran. Jenis buku yang akan dibaca para siswa, bebas, asalkan mengandung muatan budi pekerti.

Sementara itu bagi masyarakat muslim, pentingnya literasi ditekankan dalam wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (Iqro’) yang dilanjutkan dengan ‘mendidik melalui literasi’ (‘Allama Bil Qolam).

Sedangkan dalam kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis, membuat kita bisa merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau membuat kita memiliki sugesti (keyakinan/ pengaruh) positif, membuat kita semakin pandai memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, membuat kita lebih mengenali diri kita sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen mengesankan yang kita alami, meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan.

Hal lain yang berkaitan dengan pentingnya literasi adalah pencanangan UNESCO (1996) tentang  empat prinsip belajar abad 21, yakni:

(1)  Learning to think (belajar berpikir)

(2)  Learning to do (belajar berbuat)

(3)  Learning to be (belajar

(4)  Learning to live together (belajar hidup bersama)

Keempat pilar prinsip pembelajaran ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan literasi (Literary skills).

            Pokok-pokok tersebutlah yang mendasari literasi SMANSA 1 Klaten.  Embrio yang semoga melesatkan anak-anak bangsa untuk menemu kecerdasan sesungguhnya. Kecerdasan dari sebuah pembiasaan MEMBACA dan MENULIS.

 

******

 

Pojok Baca

Pojok baca merupakan area perpustakaan siswa yang terdapat disetiap pojok ataupun belakang kelas. Pojok baca sangat mendukung program literasi sekolah. Setiap kelas mengkreasikan pojok baca sekreatif mungkin untuk menumbuhkan kenyamanan siswa dalam berliterasi. Tak ayal juga beberapa kelas menyediakan area membaca lesehan didekat pojok baca agar siswa merasa lebih menikmati kegiatan literasinya.

Buku-buku di pojok baca terdiri dari beragam genre, seperti religi, romance, science fict, action, hingga kumpulan puisi. Buku-buku ini didapat dari sumbangan orang tua siswa maupun siswa itu sendiri.  Siswa secara bergilir membaca buku dari siswa lain yang terdapat di pojok baca tersebut. Buku tidak dibawa kembali oleh siswa, namun dijadikan sebagai inventaris kelas. Semua siswa mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk merawat buku dan menjaga pojok baca tetap rapi serta bersih. ( Dewi Masitoh XI MIPA 9 )

 

******

 

Report Literasi

Masa SMA bagi kebanyakan orang dianggap masa yang paling asik dan menyenangkan. Begitu pula bagi siswa-siswi SMA N 1 Klaten. Setiap pagi mereka memulai kegiatan di sekolah dengan membaca buku non pelajaran selama 15 menit. Kemudian para siswa wajib untuk menuliskan konten yang telah dibaca dalam report literasi masing-masing. Hasil tulisan dalam report kemudian dikumpulkan untuk ditandatangani oleh guru mapel jam pertama.

Membaca membuat wawasan siswa menjadi kaya dan menulis kembali apa yang telah dibaca membuat ingatan siswa semakin kuat. Semua orang dapat belajar menulis dari apa yang telah ia baca. Report literasi dirasa menjadi kebutuhan primer bagi warga smansa karena kegiatan literasi sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Cover report literasi yang digunakan sekarang merupakan hasil karya dari salah seorang alumnus SMA N 1 Klaten yang sekarang bersekolah di Philadelphia yaitu Wisnu Utomo (Fransiscus Liem). Setiap tahunnya, para siswa juga wajib untuk menuliskan satu sinopsis buku yang telah dibaca dan kemudian dibukukan bersama karya sinopsis teman sekelas. Ada juga lomba membuat slogan literasi kelas.

Kegiatan literasi yang dilakukan oleh para siswa SMA N 1 Klaten ini sudah berlangsung kurang lebih 3 tahun. Melalui kegiatan literasi, diharapkan dapat meningkatkan minat membaca  dan menumbuhkan karakter yang baik bagi siswa. Selain itu kegiatan ini juga dapat mengasah kemampuan menulis siswa.  ( ILG X MIPA 7 )

 

******

 

Tere Liye Oke

Kamis, 3 November 2016 menjadi sore terbaik dan pastinya tak terlupakan bagi banyak siswa SMAN 1 Klaten. Bagaimana tidak, dalam rangka memperingati HUT Smansa ke-59 tahun ini diselenggarakanlah acara bertajuk ‘peteng gayeng’ dimana pihak sekolah telah menghadirkan ‘Tere Liye’ penulis best seller yang deretan karyanya menjadi koleksi perpustakaan SMA N 1 Klaten dan menjadi kawan literasi siswa.

Dalam acara tersebut, Bang Tere (panggilan akrab) hadir menjadi tokoh yang dinantikan dan menambah ramai suasana keakraban malam itu. Ibu Resmiyati selaku MC acara juga terlihat sangat akrab dan mampu membawakan acara dengan baik.

Saat masuk sesi tanya jawab, para siswa sangat antusias bertanya. Dalam acara tersebut juga para juara lomba pojok baca antar kelas diumumkan dan hebohnya lagi piagam penghargaan diberikan langsung lewat Bang Tere kepada perwakilan kelas para juara. Sambutan yang meriah dan antusias kala itu oleh para siswa SMA N 1 Klaten telah membuktikan eksistensinya dalam dunia kepenulisan di Indonesia, terutama di kalangan remaja. ( Raden Mahraja X MIPA 5 )

******

 

 

Ke Delapan : Telah Diresmikan

Tepatnya 05 November 2016 — puncak dari rangkaian HUT SMA N 1 Klaten : Nuzellasla, pada upacara penutupan, rangkaian display organisasi, dilaksnakan peresmian terhadap majalah edisi delapan yang dilakukan dengan penyerahan majalah kepada Kepala SMA N 1 Klaten, Bapak Drs. Kawit Sudiyono, M.Pd oleh tim Journalism of SMANSA, yang diwakili oleh tiga siswa yaitu Dian (XI IPA 9), Dewi (XI IPA 9), dan Raja (X IPA 5). ( Dian Ramadhani XI MIPA 9 )

 

******

 

Guru Berliterasi


Julukan SMA N 1 Klaten sebagai sekolah literasi tentu tidak hanya sekedar gelar semata. Semua komponen sekolah turut ambil peran dalam budaya literasi. Berbicara mengenai literasi SMA N 1 Klaten, tak akan lepas dari sosok Resmiyati, guru Bahasa Indonesia sekaligus PJP Literasi di SMA N 1 Klaten.

Resmiyati, lahir di Klaten, 5 Agustus 1971.  Sejak tahun 2010 sampai sekarang mengajar di SMA N 1 Klaten. Selain mengajar di SMA N 1 Klaten, ia mengajar juga di Universitas Terbuka Surakarta. Beberapa kegiatan lain, diantaranya sebagai guru pemandu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Distrik Fasilitator Bahasa Indonesia USAID DBE 3, dan instruktur program revitalisasi mata pelajaran bahasa Indonesia.

Tahun 2006 memenangi lomba penulisan cerita anak SD. Tahun berikutnya 2007 memenangi lomba penulisan cerita fiksi untuk siswa SMP. Tahun 2008 sebagai guru berprestasi Kabupaten Klaten. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan dan jurnalistik.

Disela-sela peran aktif di dunia pendidikan, Rose – sapaan lain Resmiyati  juga seorang penulis. Tak banyak bukan ada guru yang mau menulis? Buku pertama beliau terbit tahun 2013 dengan judul ‘Singa Sang Raja Takut’ disusul ‘Membelah Bulan’terbitan 2016. Buku ketiga dan keempat beliau, ‘Puisi Sepi yang Kesepian’ dan ‘Surga yang Bertetangga’ saat ini sedang dalam proses penerbitan. Hebat bukan? Beliau memang tak henti-heti mengilhami anak didiknya akan pentingnya literasi.  ( Ratna S. XI MIPA 9 )

 

 

******

 

MENGENAL DUTA BACA SMANSA

Dian Ramadhani Permata Sari, lahir 12 Desember 1999 adalah duta baca SMAN 1 Klaten tahun 2016. Dia berhasil merambet gelar tersebut setelah melalui berbagai seleksi sebelum terpilih. Gadis ini menyukai dunia tulis sejak sangat kecil, dan mulai benar-benar tekun berlatih sejak menduduki bangku sekolah menengah pertama dengan aktif dalam blognya http://milkywaystories.wordpress.com

Dia juga berkali-kali turut serta dalam penerbitan buku antologi cerpen bersama penulis-penulis lainnya. Contohnya  buku Song Of My Life oleh penerbit Guepedia, beberapa buku antologi bertema fantasy dan horor. ( Fiola Cindy X MIPA 6 )

 

 ******

 

Nismara Paramayoga Go Go Go !

( Pemenang Lomba Essay HAKI Juara Nasional )

Alur lomba tersebut dimulai ketika setiap anggota Juju dan perwakilan kelas dikumpulkan menjadi satu untuk mendengarkan pengarahan dari Ibu Resmiyati, M.Pd  bahwa akan diadakan lomba esai  dari ditjen  kekayaan intelektual tingkat nasional dengan   tema “membangun negeri dengan kekayaan intelektual”. Kebetulan saat itu yang terpilih untuk mewakili Provinsi Jawa Tengah adalah SMA N 1 Klaten dan SMA N 1 Purworejo. Maka untuk menindak lanjuti hal tersebut, diadakan seleksi tingkat sekolah. Setiap kelas wajib mengirimkan minimal satu perwakilan dan khusus untuk anggota Juju wajib mengirimkan karyanya untuk diseleksi tingkat sekolah dan kemudian yang terpilih akan dikirim mewakili SMA N 1 Klaten untuk ditandingkan tingkat nasional bersama peserta dari 33  provinsi lainnya.

Akhirnya terpilihlah sembilan naskah yang terbaik diantara naskah yang sangat baik lainnya, salah satu yang lolos adalah milik Nismara Paramayoga.  Peserta yang lolos ini kemudian dibina oleh Ibu Resmiyati, M.Pd dan ditinjau  dari segi tata bahasa, substansi, bobot kata, dan  segi teknis lainnya. Pembinaan selama seminggu ini harus dilakukan se-efektif mungkin mmengingat  saat itu merupakan waktu libur bagi kelas X dan XI karena adanya USBN  untuk kelas XII. Pembinaan dapat dilaksanakan dengan baik dan maksimal. Sembilan naskah itu segera dikirim ke ditjen pusat kekayaan intelektual di Jakarta.

Beberapa minggu tidak ada kabar, akhirnya pada  tanggal 13  April 2017 ada email masuk ke akun email milik salah satu peserta, yaitu Nismara Paramayoga. Isi email tersebut menanyakan contact person lebih detail milik yang bersangkutan. Setelah dikirim kembali, akhirnya pada 14 April 2017 ditjen secara langsung menelpon Nismara Paramayoga dan diumumkan bahwa ia  memperoleh Juara II Lomba Esai tingkat Nasional mengalahkan 63 karya lainnya yang dikirim oleh perwakilan provinsi seluruh Indonesia. Lebih lanjutnya penyerahan hadiah akan dilaksanakan di istana negara menemui Presiden Ir. H. Joko Widodo pada puncak hari kekayaan intelektual, yaitu 26  April 2017.

Hari - H pun semakin dekat, Nismara Paramayoga bersama Ibu Resmiyati, M.Pd segera mempersiapkan diri untuk memenuhi undangan dari Ditjen menghadiri acara puncak Hari  Kekayaan  Intelektual 2017 di Hotel Kempinski Indonesia. Tetapi ada kabar yang  membuat lesu, yaitu penyerahan anugerah yang semula  dilaksanakan di Istana Negara batal dilaksanakan, namun dilaksanakan sekaligus peringatan HKI 2017 di Hotel Kempinski. Ditambah lagi Presiden RI, Joko Widodo dan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly batal menyerahkan anugerah secara langsung karena beliau berdua harus mengikuti Musrenbangnas di Hotel Bidakara yang kebetulan waktunya bersamaan dengan penyerahan anugerah WIPO.

Kalender saat itu menunjukkan tanggal 26 April 2017, tanggal yang diperingati sebagai Hari Kekayaan Intelektual Sedunia. Nismara Paramayoga dan Ibu Resmiyati, M.Pd sudah  berada di Jakarta sehari sebelumnya. Forum peringatan dilaksanakan di Bali Room, Hotel Kempinski (Hotel Indonesia). Selain penganugerahan  kepada Nismara Paramayoga sebagai  Juara II Penerima Anugerah Kekayaan Intelektual 2017  untuk Kategori  WIPO Schoolchildren’s Trophy, ada pula penyerahan untuk juara I dan II lomba yang sama yang berasal dari SMA N Bali Mandara, dan ada pula penyerahan WIPO Award untuk kategori lain atas  nama Raditya Dika Angkasa Putra dan Dr. Bambang Widiyatmoko, M.Eng.

Penghargaan kepada Nismara Paramayoga diserahkan langsung  oleh Plt. Kepala Ditjen Kekayaan Intelektual  dan Head of World Intelectual Property Organization (WIPO).  Penghargaan berupa  uang, trophy  anugerah,  dan piagam yang   ditandatangani langsung oleh  Menteri  Hukum  dan HAM,  Yasonna H. Laoly. Semoga dengan berhasilnya rekan kita, Nismara Paramayoga dapat memotivasi kita agar selalu berkarya dan berprestasi lebih tinggi lagi karena tidak ada hal yang mustahil dicapai. Sekali lagi, selamat ya untuk Rama jangan cepat puas dalam berkarya.

 

 ******

 

Essay Pemenang Lomba Hari Hak Atas Kekayaan Intelektual Sedunia

Berikut essay karya Nismara Paramayoga, Juara II Nasional :

 

Nyanyian Ha(K)i untuk Negeriku

 

Tidak berlebihan kiranya jika kita mengatakan dunia tampaknya terus mengalami revolusi peradaban. Revolusi peradaban antara lain bisa terbaca dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan kita. Coba bandingkan situasi dan kondisi saat ini dengan 10 tahun yang lalu, jelas banyak sekali perubahannya. Tentu saja perubahan menuju kemajuan di segala aspek, baik dalam aspek pendidikan, sosial budaya, teknologi, ekonomi perdagangan maupun aspek lainnya.

Jika dicermati, kemajuan itu ternyata tidak dapat dilepaskan dari penemuan (invention) yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok seperti lembaga-lembaga riset dan perusahaan, baik yang berorientasi mencari keuntungan maupun nirlaba. Tanpa adanya sebuah penemuan, mustahil tercipta suatu hal baru. Berbagai penemuan ini sangat berguna dalam upaya meningkatkan kekayaan intelektual dalam lingkup global, dan pada akhirnya bisa mendorong terjadinya revolusi peradaban.

Di Indonesia, sudah banyak penemuan yang bermanfaat dan memperkaya khasanah intelektual bangsa, baik itu dalam bidang ilmu pengetahuan-teknologi, sosial-budaya, maupun ekonomi-perdagangan. Penemuan atau invensi adalah ide investor (penemu) yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses[1]. Penemuan tidak hanya spesifik pada produk jadi saja, tetapi juga ide, pemikiran maupun postulat yang dicetuskan inventor.

Beberapa contoh penemuan yang ditemukan orang Indonesia, antara lain Prof. Dr. B.J Habibie dengan teori, faktor, dan metode yang berhubungan dengan teknologi pencegahan keretakan sayap pesawat atau populer disebut crack theory. Kemudian Prof. Dr. Khoirul Anwar, penemu teknologi jaringan 4G LTE, Prof. Ir. R.M. Sedyatmo penemu teknologi pondasi cakar ayam, Prof. Poerwo Soedarmo pencetus slogan 4 sehat 5 sempurna, dan masih banyak lainnya. Penemuan ini dianggap sebagai aset bangsa Indonesia yang harus dijaga sebagai aset kekayaan intelektual nasional.

Apabila penemuan-penemuan tadi tidak dijaga dengan baik, maka dapat terjadi hal-hal yang merugikan, seperti klaim invensi ganda, kerugian materiil, dan plagiatisme (penjiplakan). Hal tersebut dapat merugikan investor asli, dan secara tidak langsung dapat menghambat proses penemuan selanjutnya. Kekayaan intelektual suatu bangsa pun dapat terancam. Untuk mengatasi hal ini, maka dibutuhkan peningkatan perlindungan dan jaminan kepastian hukum bagi pencipta karya yang sekarang lazim disebut hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Di dalam HAKI terdapat sistem hukum yang mengiringi pelaksanaanya.

Apa sesungguhnya HAKI itu? HAKI adalah hak atau wewenang atau kekuasaan untuk berbuat sesuatu atas kekayaan intelektual tersebut dan hak tersebut diatur oleh norma-norma atau hukum-hukum berlaku. Sedangkan kekayaan intelektual merupakan kekayaan atas segala hasil produksi kecerdasan daya pikir seperti teknologi, pengetahuan, sastra, seni, karya tulis, karikatur, pengarang lagu dan seterusnya [2]. Pokok bahasan HAKI adalah mengenai kekayaan intelektual yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan intelektualitas manusia. Bentuk kekayaan intelektual itu dapat berupa penemuan, desain produk, literatur, seni, pengetahuan, software, nama dan merek usaha, know-how & informasi rahasia, desain tata letak IC, dan varietas baru tanaman.

HAKI meliputi hak cipta dan hak kekayaan industri. Dalam hak kekayaan industri mencakup antara lain hak paten, hak merek, hak desain industri, hak desain tata letak sirkuit terpadu, hak rahasia dagang, dan hak indikasi.

Hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan[3].  Sedangkan hak kekayaan industri adalah hak yang mengatur segala sesuatu milik perindustrian, terutama yang mengatur perlindungan hukum.

Sebenarnya, hukum yang mengatur tentang HAKI sudah banyak. Diantaranya UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, UU No.13 Tahun 2016 tentang Paten, UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, UU No 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,  dan lain-lain.

Di dalam undang-undang tersebut terdapat ancaman pidana bagi siapa saja yang melanggar dalam konteks hak atas kekayaan intelektual. Hukumannya pun tidak tanggung-tanggung, misalnya dalam UU No.13 Tahun 2016 tentang Paten, ancamannya berupa hukuman kurungan badan paling lama 2 tahun penjara hingga paling lama 10 tahun penjara. Denda berkisar antara paling banyak lima ratus juta hingga tiga setengah milar rupiah[4]. Ini jelas bukan hukuman yang ringan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, masih banyak pelanggaran HAKI, baik dalam skala kecil hingga skala besar, baik pelanggaran yang bersifat ringan maupun berat. Ibarat pengendara sepeda motor, apabila ia berada di jalan kampung/ desa, ia berani tidak menggunakan helm karena jarang ada polisi berjaga di jalan kampung.  Namun, apabila sampai ke jalan utama, baru menggunakan helm karena banyak polisi yang berjaga.

Sama seperti penegakan hukum HAKI, pelanggar hukum dapat dengan leluasa melenggang bebas melaksanakan aksinya karena kurangnya pengawasan dan penegakan hukum (law enforcement). Memang tidak mudah untuk mengusut pelaku pelanggaran HAKI, karena pelanggaran HAKI sudah mengakar kuat di masyarakat, terutama karena alasan ekonomi.

Pelanggaran HAKI dalam kehidupan sehari-hari terjadi di bidang IPTEK, bidang ekonomi/perdagangan, bahkan bidang sosial budaya. Di bidang IPTEK contohnya, adanya penggunan alat pembelajaran berbayar yang memiliki hak cipta tetapi disebarkan luas tanpa izin dari penciptanya, penjiplakan karya ilmiah orang lain, fotokopi buku untuk dijual, dan masih banyak lagi.

Kemudian di bidang ekonomi/perdagangan, adanya penyalahgunaan merek sebagai produk lain tanpa izin dari pemilik merek, penggunaan lambang/nama dari merek untuk tujuan komersial tanpa izin dari pemilik merek, dan lain-lain. Di bidang sosial budaya ada penjualan kaset rekaman bajakan, unduhan film dan musik di internet tanpa izin pencipta, penjiplakan syair dan melodi lagu oleh penyanyi lain, dan masih banyak lagi.

Pelaku pelanggaran hak kekayaan intelektual memang sangat sulit dicegah karena memang budaya pelanggaran hak kekayaan intelektual sudah mengakar kuat di Indonesia. Kurangnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap ciptaan atau penemuan intelektual seseorang juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya mengurangi tindak pelanggaran HAKI sehingga HAKI berada dalam kedudukan antara ada dan tiada di masyarakat.

Masyarakat bahkan menyangkal bahwa perbuatannya itu melanggar hukum dengan alasan faktor ekonomi. Mereka hanya mementingkan uang yang di dapat dari apa yang mereka jual, tanpa mengetahui ada pihak yang dirugikan dari perbuatan mereka.  Namun itu hanya terjadi pada pelanggaran skala kecil saja. Sedangkan pada taraf pelanggaran berat, penegakan hukum HAKI sudah cukup membantu dan terasa manfaatnya bagi korban pelanggaran HAKI.

Sebenarnya solusi untuk mengatasi semua ini lebih cocok lewat dua jalur, yaitu jalur pendidikan dan jalur hukum. Kedua jalur ini dirasa cukup ampuh untuk memerangi pelanggaran hak yang bersifat intelektual. Jalur yang pertama jalur pendidikan, melalui jalur ini penanaman nilai-nilai yang menjadi akar norma hukum menjadi lebih mudah diterima karena tidak ada penolakan. Penanaman nilai HAKI via jalur pendidikan—baik pendidikan formal maupun nonformal—dinilai akan lebih kuat dan akan tetap dipegang hingga seseorang dewasa. Pendidikan formal contohnya melalui bangku sekolah, dan pendidikan non formal contohnya melalui organisasi kesiswaan, pramuka, dan lain-lain.

Jalur berikutnya adalah jalur hukum. Ya, sejalan dengan penanaman nilai HAKI lewat jalur pendidikan, penegakan hukum (law enforcement) harus lebih diperkuat lagi. Pengawasan terhadap pelanggaran HAKI harus lebih diperketat. Negara yang memiliki aparat penegak hukum yang memiliki daya paksa, harus lebih aktif mengawal tugas ini.

Mengenai pencegahan melalui jalur pendidikan, penulis sebagai seorang pelajar ingin menyampaikan keprihatinannya tentang budaya pelanggaran HAKI di kalangan pelajar yang sudah dianggap wajar/ lumrah. Pelajar kurang mengetahui dan cenderung tidak mau tahu bahwa apa yang dilakukannya itu melanggar HAKI. Bibit-bibit pelanggaran HAKI oleh pelajar contohnya budaya copas (copy-paste) untuk tugas tanpa mencantumkan penulis aslinya. Praktek copas yang menjadi sangat mudah di era digital ini, kadang dilakukan secara penuh (full script) tidak hanya sekedar mengutip, tapi mengkopi ‘seluruh’ tulisan orang lain. Sebenarnya dalam pendidikan karakter sudah ditanamkan “kita harus mencantumkan nama penulis asli dari sumber yang kita sadur”. Namun kata-kata bijak itu rupanya hanya sekadar nasihat masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tidak pernah digubris siswa dengan alasan kepraktisan dan agar terlihat pintar. Dengan demikian orang lain menganggap tugas itu sebagai ciptaanya sendiri, padahal bukan.

Kemudian ada budaya download film ilegal/ bajakan contohnya seperti di situs ganool.org, layarkaca21.org, 22cinema.com, gudangmovies21.co, dll. Penulis juga menyayangkan mengapa pemerintah dalam hal ini Menkominfo belum menutup situs tersebut. Selain film bajakan, pelajar juga men-download lagu bajakan, gamePC bajakan, software bajakan, dan sebagainya.

Mewakili pendapat pribadi, penulis merasa sedih dan prihatin terhadap fenomena ini, Mengapa orang Indonesia, khususnya kalangan pelajar tidak mempedulikan HAKI. Penggiat industri film, musik, fotografer, penulis, dan lain-lain pasti merasa sangat dirugikan. Jangankan memikirkan keuntungan ekonomi, nama dan identitas pemilik karya saja dibuang dari hasil ciptaanya.

Ibu pertiwi pun pasti merasa bersedih mengapa anak-anak bangsa yang sudah memeras otak dan keringat guna menyumbangkan sesuatu untuk bangsanya sendiri malah diabaikan oleh sesama anak bangsa. Padahal di negeri lain, kekayaan intelektual sangat dijunjung tinggi dan dianggap sebuah aset bangsa.

Sebentar lagi Hari Kekayaan Intelektual akan diperingati, yaitu pada tanggal 26 April. Sebagai anak bangsa yang santun dan ksatria, mari kita sumbangkan akal dan pikiran untuk Indonesia agar negeri tercinta ini semakin memiliki khasanah kekayaan intelektual yang melimpah dan dihormati bangsa lain.

Jangan mau karya kita dirampas, dan jangan merampas karya orang lain. Seperti ajakan  Presiden Joko Widodo untuk merevolusi mental kita, mari kita revolusi cara berpikir kita agar lebih menghormati karya orang lain. Apabila kita semua sudah menjujung tinggi hak kekayaan intelektual, niscaya negara kita akan menjadi negara besar karena tidak ada negara besar yang tidak menghormati jerih payah dan kerja kerasnya sendiri.

 “Aku untuk HAKI, HA(K)I-ku untuk Negeriku. Negeriku, Indonesia”

 

 ******

 

Kudapan Literasi

Setiap harinya sebelum memulai kegiatan pembelajaran di kelas, para siswa melaksanakan kegiatan literasi. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan minat baca siswa, dan melatih siswa agar dapat menerapkan isi bacaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dari kegiatan literasi dituangkan oleh para siswa menjadi  berbagai karya-karya sastra, sebagai tanda bahwa kegiatan literasi berhasil terlaksana.

Karya sastra tersebut berupa buku antologi cerpen, sinopsis, resensi novel, esai dan lainnya, baik ditulis menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, maupun bahasa Inggris. Buku-buku tersebut tersusun rapi di rak buku, sehingga para siswa dapat menikmati karya sastranya sendiri serta karya sastra siswa lain sebagai bahan untuk diapresiasi. Buku-buku tersebut juga dapat dinikmati sebagai kudapan literasi bagi para tamu yang berkunjung. ( Artha Zahra X MIPA 6 dan Shabrina )

 

  ******

 

Mading Literasi

Mading literasi adalah wadah kreativitas hasil literasi dari siswa-siswi SMA Negeri 1 Klaten. Mading ini dibuat dalam rangka peringatan hari ulang tahun SMA Negeri 1 Klaten dengan tema yang telah ditentukan dan selalu berbeda setiap tahunnya. Setiap kelas diwajibkan untuk membuat mading sesuai dengan kreativitas masing-masing.  

Mading literasi akan diseleksi oleh tim juri yang terdiri dari guru pembimbing literasi dan tim jurnalistik SMA Negeri 1 Klaten untuk diambil yang terbaik. Setiap tahunnya dipilih dua mading terbaik untuk dimuat di lobby SMA Negeri 1 Klaten, sedangkan mading yang tidak terpilih dapat dipajang di kelas masing-masing. (Salsa XI IPS 2 dan Nabila X IPA 9)

 

******

 

Taman Baca

 

Taman baca, sepeti namanya yaitu suatu taman yang sering digunakan siswa SMA N 1 Klaten untuk membaca buku, mengerjakan tugas, dan banyak kegiatan lainnya. Taman baca Berada di depan ruang kelas 10, di depan UKS, dan di belakang gedung baru SMA Negeri 1 Klaten. Taman baca adalah tempat yang indah, nyaman, dan asri. Dihias dan ditata dengan rapi sehingga sangat enak dipandang. Terdapat banyak tanaman - tanaman hias yang mempercantik taman baca. Disana juga terdapat air mancur yang membuat suasana menjadi lebih syahdu. Dilengkapi dengan meja dan kursi putih yang membuat taman baca tak pernah sepi.

Taman baca di SMA Negeri 1 klaten selalu ramai dikunjungi para siswa. Mulai dari yang mengerjakan tugas, membaca buku, dan bersantai. Di taman baca juga biasanya banyak digunakan untuk konsul dengan guru tentang tugas ataupun tentang suatu kegiatan. Karena tempatnya yang indah taman baca juga sering diguanakan untuk pembuatan video. Ditambah lagi taman baca juga dilengkapi dengan wifi sehingga saat pulang sekolah taman baca selalu dipenuhi para siswa. ( Harnung X MIPA 8 )

 

******

 

SISWA BERKARYA

 

 AKU SENA DAN DIANY, demikian lah judul dari buku buah karya siswa-siswi SMAN 1 Klaten sebagai produk dari kegiatan literasi. Buku ini berisi karya siswa-siswi SMAN 1 Klaten yang diseleksi secara khusus dan diterbitkan. Bahkan sudah ber-ISBN dan layak untuk diperjualbelikan. Buku ini bahkan telah sampai KEMENHUM RI.

 

 ******

 

Hari Pendidikan Nasional

( Puisi untuk Negriku )

 

Tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang tak lain adalah hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Dalam peringatan tersebut kerap sekali diadakan lomba-lomba baik akademis dan non-akademis.

Pada 2 Mei 2017 SMA N 1 Klaten mengadakan lomba deklamasi puisi. Seluruh kelas 10 dan 11 mengirimkan perwakilan untuk mendeklamasikan puisi berjudul “Seonggok Jagung” karya W.S. Rendra dan puisi buatan sendiri bertema Pendidikan. Dalam penentuan nilai terdapat 3 orang juri, yaitu Bapak Suyono selaku guru Bahasa Jawa, Bu Prapti guru Bahasa Indonesia dan Bu Anis. Kegiatan diikuti seluruh peserta lomba dengan baik. ( Fiola Cindy X MIPA 6 )

 

******

 

PILAR SMANSA 2017

( Research for better life, better future, and better world )

 

Inilah Wujud nyata literasi SMANSA Klaten. Kebisaan membaca, memahami dan mengaplikasi, telah diterapkan dalam penulisan karya ilmiah. Buku-buku yang dibaca para siswa menjadi nutrisi dan asupan gizi untuk memperkaya dan memperdalam hasil penelitian. Dan hasilnya memang luar biasa. Semua dapat dilihat saat puncak acara PILAR tanggal 2 Mei 2017 bertepatan dengan peringatan HARDIKNAS.

Kegiatan ini melibatkan  siswi-siswi kelas X dan kelas XI.  Pola kegiatannya dikemas dalam  acara pekan ilmiah remaja SMANSA atau yang biasa disebut dengan PILAR SMANSA. Kegiatan penelitian ini, diawali dengan diadakannya study excursion pada tanggal 15 Maret 2017 untuk kelas XI di Kebumen dan tanggal 20 Mei 2017 untuk kelas X di Yogyakarta. Lalu, siswa-siswi yang dibentuk dalam kelompok beranggotakan 3-4 siswa diberi waktu kurang lebih selama 3 minggu untuk membuat laporan. Dari sekian banyak karya, telah terpilih 6 karya terbaik, yaitu karya dari kelas X MIPA 1, X MIPA 4, X MIPA 6, XI MIPA 3, XI MIPA 4, dan XI MIPA 9. Setiap perwakilan kelas yang terpilih wajib mengirimkan 3 orang untuk melakukan presentasi di depan juri.

Dalam acara PILAR SMANSA kali ini, panitia  menghadirkan  tiga  juri.  Dua  juri pembimbing dari SMA Negeri 1 Klaten yaitu Ibu Titik Nur Aini, S.Sos dan Ibu Resmiyati, M.Pd serta satu  juri tamu dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ibu Dr. Das Salirawati, M.Si. Setiap peserta diberi waktu presentasi selama 10 menit dan waktu tanya jawab selama 15 menit. Dengan persaingan yang ketat akhirnya didapatkan juara 1 dari kelas XI MIPA 9 dengan materi “Pemanfaatan Batu Grafit Karangsambung”, juara 2 kelas XI MIPA 3 dengan materi”Erosi”, dan juara 3 kelas XI MIPA 4 dengan materi “Pengaruh Tekanan dan Kecepatan Arus Air Laut terhadap Pembentukan Batuan Basalt Lava Bantal di Sungai Karangsambung”. ( Nabila X MIPA 9 )

******

Geliat Pojok Baca Smansa : Sebuah Era Kaya Makna

IMG20170815115942[1]

Siswa-siswi SMANSA membuktikan gebrakan literasi di SMA Negeri 1 Klaten yang gaungnya mulai terdengar dua tahun lalu, bukan hanya sekedar program dengan tajuk yang mewah, namun sudah melekat dalam jiwa peserta didik.

Mengintip di ruang kelas XII IPA 9, Senin, 14 Agustus 2017 pukul 19.00 WIB, meskipun jam pulang sekolah telah lama usai, para siswa nampak  antusias memperbaiki, menata, dan men-design ulang Pojok Baca Kelas. Para siswa khususnya anngota kelas FISION (Fifth Science OSN) ini tak tanggung-tanggung menunjukkan kepedulian terhadap gerakan literasi SMANSA, terutama dalam hal perawatan pojok baca. Pemasangan kertas dinding, pembuatan rak buku tambahan, hingga penataan pojok baca menarik penuh kreasi mereka lakukan demi terciptanya pojok baca yang nyaman untuk disinggahi para siswa.

Meskipun lelah setelah seharian belajar di kelas  full day school, semangat mengoptimalkan sisi belakang kelas menjadi pojok baca yang menarik, rapi, nyaman dan berdaya guna tetap menjadi prioritas utama. Kekompakan kelas dan kesungguhan dalam mendukung gerakan literasi sekolah yang ditunjukkan para siswa  kelas XII IPA 9 -Ratna Sari & Dian Ramadhani (XII IPA 9)

IMG20170814193250[1]IMG20170814195352[1]

IMG20170814195358[1]IMG20170814192343[1]

 

******

Seleksi Duta Baca SMA N 1 Klaten 2017/2018



Pada 23 Oktober 2017 telah dilaksanakan kegiatan Semifinal Duta Baca SMA N 1 Klaten. Kegiatan ini diadakan oleh Junior Jurnalistik SMANSA (JUJU) guna memperingati bulan bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Sebelumnya telah dilakukan seleksi terhadap 32 peserta dari setiap kelas dan menyisihkan 10 semifinalis.

Kegiatan ini bertempat di Taman Baca SMA N 1 Klaten sepulang sekolah berupa wawancara 10 peserta semifinal oleh keempat juri guru Bahasa Indonesia, yaitu Ibu Anik Hidayati, Ibu Mulyani, Ibu Suprapti, dan Ibu Sri Neni Widyastuti yang nantinya akan menyisakan 5 peserta babak akhir. Penentuan Duta Baca akan diselenggarakan ketika acara Puncak Bulan Bahasa pada 27 Oktober 2017 di SPKG.

Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan adanya peningkatan sadar baca dan berbahasa serta pembudayaan literasi secara nyata di kalangan warga sekolah juga lingkungan masyarakat. (Fiola. JUJU)

 

 

*****

Seminar Literasi Media dan Keuangan

SMA Negeri 1 Klaten merupakan salah satu penggerak literasi di kalangan pelajar Indonesia. Tidak hanya melakukan literasi setiap harinya, Smansa Klaten juga melakukan kegiatan pendekatan dengan adanya Seminar Literasi dan Keuangan yang dilaksanakan pada Kamis, 19 Oktober 2017 lalu di gedung SPKG. Pesertanya terdiri atas siswa-siswi SMA N 1 Klaten dan pihak guru.

Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dari MC kemudian dilanjutkan sesi materi Seminar Literasi Media oleh Ibu Merawati Sumantri yang merupakan salah satu penulis dalam koran Suara Merdeka, serta pengenalan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) oleh Bapak Antonius Yudhianto selaku Kepala Sub-bagian  dan Ibu Friska Magdalena selaku staf EPK. Selama 4 jam, kegiatan ini berlangsung dengan baik. Diselingi sesi tanya-jawab yang menghasilkan komunikasi efektif antara pembicara dengan peserta seminar.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mampu menghasilkan pribadi-pribadi dengan bekal pemahaman dan pengetahuan mengenai pentingnya literasi dan kewirausahaan. (Olivia JUJU)

 

****

KEMILAU LITERASI TAK PERNAH BERHENTI

Pada tanggal 27 oktober 2017 telah diadakan acara puncak bulan bahasa di SMA Negeri 1 klaten. Dalam acara tersebut salah satunya diisi oleh materi kepenulisan tentang literasi yang diisi oleh Ibu Resmiyati selaku penggerak Literasi di SMA Negeri 1 klaten.

Literasi di SMA Negeri 1 Klaten adalah literasi yang pertama kali didengungkan di Klaten. Literasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2015. Report literasi SMA Negeri 1 klaten juga merupakan report literasi yang pertama kali di Indonesia dan kemudian dicontoh oleh berbagai sekolah.

Kecemerlangan literasi di SMA N 1 Klaten tak hanya sampai situ, terbukti dalam ajang Gebyar Literasi se-Solo Raya SMANSA meraih beberapa prestasi. Prestasi tersebut antara lain juara 1 kategori guru menulis puisi, juara 2 fotografi literasi, serta berhasil meloloskan 5 buku antologi puisi untuk diterbitkan secara gratis.

Begitu banyak nya prestasi yang telah diraih oleh SMA Negeri 1 klaten dalam berliterasi. Maka dari itu ayo marilah kita tanamkan dan kobarkan jiwa semangat literasi karna dengan literasi kita dapat meraih banyak ilmu serta prestasi-prestasi yang selayaknya dapat kita raih jika kita selalu tanamkan jiwa literasi dalam diri kita. Gerakan literasi di SMA Negeri 1 Klaten itu tidak akan pernah berhenti. Jika berhenti siswa sendirilah yang mematikan gerakan tersebut.

Salam Literasi! (Roswinda JUJU)